.quickedit{display:none;}
Tampilkan postingan dengan label Proses Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proses Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2015

Menumbuhkan Rasa Agama Kepada Anak


Perkembangan rasa agama adalah rangkaian perubahan progresif yang terjadi akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Perkembangan bukan hanya sekedar perubahan beberapa sentimeter pada tinggi badan atau peningkatan kemampuan seseorang melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dn fungsi yang komplek. Perubahan setiap tingkatan dipengaruhi oleh faktor internal yaitu perkembangan usia dan faktor eksternal berupa pengaruh dari luar yang di alaminya serta adanya suatu  proses.sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Potensi itu merupakan dorongan untuk mengabdi kepada sang Pencipta. Dorongan itu berupa benih-benih keberagamaan yang di anugerahkan Tuhan kepada manusia. Dorongan ini merupakan cikal bakal tumbuhnya kepercayaan atau agama pada manusia. Dorongan untuk mengabdi yang ada pada diri manusia merupakan sumber keberagamaan yang fitri.

Untuk memelihara dan menjaga kemurnian potensi fitrah, Allah mengutus para Nabi dan Rasul. Tugas mereka adalah mengarahkan pengembangan potensi bawaan itu ke jalan sebenarnya dengan cara memberi pengajaran dan contoh teladan yang dalam estafet selanjutnya risalah tersebut diwariskan kepada para ulama’. Akan tetapi tanggungjawab utamanya di titikberatkan pada kedua orang tua. Apakah seseorang setelah dewasa menjadi sosok yang taat bergantung pada pembinaan nilai-nilai agama oleh orang tua.

Pendidikan mempunyai peran yang penting dalam menanamkan rasa agama ada anak. Melalui pendidikan pula pembentukan sikap keagamaan di lakukan. Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama  dan utama yang sulit di abaikan dalam pendidikan yang mana pendidiknya adalah orang tua itu sendiri. Bapak dan ibu adalah pendidik kodrati. karena mereka diberikan anugerah Tuhan berupa naluri orang tua. Karena naluri itu, muncul rasa kasih sayang pada anak-anaknya hingga keduanya merasa mempunyai tanggung-jawab untuk memelihara, mengawasi, melindungi dan membimbing anak-anaknya.


Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan. Fungsi dan peran orang tua mampu membentuk arah keyakinan anak-anak mereka. Sejak masa bayi hingga usia sekolah anak memiliki lingkungan tunggal dalam keluarga. Bayi yang baru lahir merupakan makhluk yang tak berdaya tetapi dibekali berbagai kemampuan yang bersifat bawaan. Perkembangan bayi tidak menjadikan dapat berlangsung secara normal tanpa adanya bantuan dari luar. Tanpa bimbingan dan pengawasan yang teratur bayi akan kehilangan kemampuan untuk berkembang secara normal walau memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang.

Orang tua bertanggungjawab  memberikan pendidikan pada anak-anaknya. Sebagaimana Al Ghazali menyatakan (seperti John Lock) dengan teori tabularasanya, bahwa manusia lahir seperti kertas putih dan lingkungan yang mengisi kertas putih itu. Ia mengajarkan bahwa perkembangan pribadi ditentukan faktor lingkungan terutama pendidikan keluarga. Pengalaman dari lingkungan menentukan pribadi seseorang. Disinilah pentingnya pendidikan terutama pendidikan keluarga (orang tua). Hubungan orang tua dengan anak memiliki peran yang sangat besar dalam proses peralihan nilai agama yaaang akan menjadi dasssa-dasar nilai dari religiusitas anak.

Melalui hubungan dari orang tua anak menyerap konsep-konsep religiusitas, baik yang berkaitan dengan konsep-konsep keimanan, ibadah, maupun muamalah (etik dan moral).ada dua masalah penting yang ikut berperan dalam perkembangan religiusitas anak melalui proses hubungan orang tua dn anak. Yaitu cara orang tua dalam berhubungan (berkomunikasi) dengan anaknya, serta kualitas dari religiusitas orang tua.

Cara berhubungan orang tua dengan anaknya menimbulkan suasana emosional tertentu yang akan mempengaruhi situasi emosi dan sikap anak terhadap obyek yang menjadi perantara hubungan tersebut. Oleh karena itu, peralihan konsep-konsep keagamaan yang terjadi pada suasana hubungan yang positif akan menimbulkan rasa senang dan sikap positif anak terhadap nilai dan perilaku keagamaan. Hal ini akan mendorong timbulnya minat anak dalam mempelajari nilai-nilai keagamaan baik pada usia tersebut maupun usia selanjutnya. Cara berhubungan orang tua dengan anak memang mempunyai peran penting dalam perkembangan religiusitas anak bahkan lebih penting dari materi yang di tanamkan.

Religiusitas anak adalah hasil dari proses penyerapan anak terhadap perilaku relligiusitas orang tua. Semakin tinggi tingkat religiusitas orang tua akan semakin tinggi ekspresi perilaku tingkat keagamaannya sehingga mudah teramati dan terserap oleh anak. Pendidikan yang utama bagi anak adalah pendidikan tauhid. Menurut Al Ghazali, cara untuk menanamkan keimanan pada anak ialah dengan metode pengajaran secara sabar dan kasih sayang sehingga mencapai iman yang kuat.

Selasa, 14 Juli 2015

Pengaruh Penerapan Teknologi Pendidikan terhadap Proses Pendidikan


Pengaruh Penerapan Teknologi Pendidikan terhadap Proses Pendidikan

A.    Pengertian Teknologi Pendidikan
Teknologi Pendidikan merupakan pengembangan, penerapan dan penilaian sistem-sistem, teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar siswa. Ada pula yang mendefinisikan sebagai pemikiran yang yang sistematis dan kritis tentang pendidikan.
B.     Kontribusi Teknologi Pendidikan dalam Proses Pendidikan
            Kontribusi teknologi pendidikan dalam pembangunan pendidikan dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaiitu konseptenaga profesi dan kegiatan.
1.      Kontribusi berupa konsep. Pengertian “pembelajaran” dalam UU Sisdiknas adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar dalam lingkungan belajar”. Sedangkan dalam konsep teknologi pendidikan, didefinisikansebagai “proses sistematik dan sistemik yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang agar orang lain dapat secara aktif belajar sehingga mencapai kompetensi yang diharapkan.”
Visi teknologi pendidikan yang dirumuskan pada tahun 1987 telah terfokus kepada kepentingan peserta didik dengan rumusan “terciptanya kondisi yang memungkinkan setiap orang berkembang potensinya secara optimal, dengan dikembangkan dan dimanfaatkannya berbagai strategi dan sumber belajar”.
Penetapan standar proses sebagai salah satu standar nasional pendidikan, dapat dikatakan merupakan implementasi dari konsep teknologi pendidikan sebagai proses untuk memperoleh nilai tambah. Langkah-langkah dalam standar proses yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengawasan  juga identik dengan proses pembelajaran dalam konsep teknologi pendidikan. Demikian pula istilah dan konsep tentang sumber belajar, pendidikan terbuka dan multi makna, manajemen berbasis sekolah (yang merupakan pendekatan bottom-up), dan pendidikan jarak jauh, juga merupakan kontribusi dari konsep teknologi pendidikan.
2.      Kontribusi berupa tenaga profesi, baik akademisi maupun praktisi, dalam pembangunan pendidikan tidak diragukan lagi. Mereka berkarya dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan belajar dan biasanya bekerja dalam satuan regu dengan aneka tugas, seperti perancang pembelajaran, artis grafis, ahli media, ahli evaluasi, pemrogram komputer, dan lain sebagainya. Para guru pun sebagian telah menjadi praktisi teknologi pendidikan, yaitu dengan menerapkan kawasan pemanfaatan dalam konsep teknologi pendidikan.
3.      Kontribusi yang berupa kegiatan, terwujud dengan tumbuh dan berkembangnya berbagai pola pendidikan dan pembelajaran. Saat ini banyak tenaga yang terdidik dalam bidang teknologi pendidikan dan banyak pula kegiatan penerapan teknologi pendidikan yang terintegrasi(imbedded) dalam kegiatan pendidikan atau pembelajaran. Seperti sistem belajar di rumah (home-schooling),  SLTP/MTs Terbuka, SMU Terbuka, KEJAR Paket A, B, dan C, televisi pendidikan (serial pertama tentang pendidikan karakter, ACI = Aku Cinta Indonesia), TV Edukasi, penataran guru melalui siaran radio pendidikan, penggunaan berbagai strategi dan sumber belajar di sekolah maupun lembaga pelatihan, Universitas Terbuka, dll. Keseluruhan kegiatan ini sudah merupakan bagian integral dalam sistem pendidikan.

C.    Pengaruh Positif dan Negatif Teknologi Pendidikan terhadap Proses Pendidikan

1.      Pengaruh positif :
a.       menambah keanekaragaman pilihan sumber maupun kesempatan belajar.
b.      menambah daya tarik, minat, dan motivasi untuk belajar.
c.       menunjang kegiatan belajar masyarakat serta mengundang partisipasi masyarakat.
d.      menyebarkan informasi secara meluas, seragam, cepat, dan up to date.
e.       pengajaran dan proses belajar mengajar lebih efektif.
f.       mempunyai keuntungan rasio efektivitas biaya, bila dibandingkan dengan sistem tradisional.
g.      memasyarakatnya pendidikan terbuka/jarak jauh.

2.      Pengaruh negatif :
a.       kurangnya interaksi antara guru dan siswa.
b.      berubahnya peran guru dari teknik pembelajaran konvensional menjadi ICT.
c.        penyebab utama sikap malas karena kemudahan yang diberikan oleh teknologi.
d.      otomatis berpengaruh dengan jiwa konsumeris kita dan menganggap teknologi adalah kebutuhan primer yang berpengaruh pada lifestily.
e.       bersikap serba instan karena teknologi menyuguhkan hal yang serba instan.
f.       sering disalahgunakan untuk melakukan kegiatan yang di anggap tak pantas di lakukan.

Sekarang hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah E-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet.
-          E-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,
-          Pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar,
-          Memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.

Pemilihan teknologi dalam pendidikan akan membuka kemungkinan untuk lahirnya berbagai alternatif bentuk kelembagaan baru yang menyediakan fasilitas belajar, disamping dapat melayani segala bentuk lembaga pendidikan yang telah ada. Misalnya kemungkinan bagi suatu bentuk sekolah terbuka yang fasilitas dan tata belajarnya berbeda sekali dengan sekolah konvensional, tetapi dengan hasil (output) yang sama.
Serangkaian kriteria pemanfaatan teknologi dalam pendidikan, antara lain: harus dijaga kesesuaiannya (kompatibilitas) dengan sarana dan teknologi yang sudah ada, dapat menstimulasikan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta mampu memacu usaha peningkatan mutu pendidikan itu sendiri.
Dengan demikian, adanya penerapan suatu teknologi dalam pendidikan akan sangat mungkin terjadi perubahan besar-besaran dalam interaksi belajar mengajar antara sumber-sumber belajar dengan pelaku belajar. Salah satu kemungkinan perubahan tersebut adalah dengan penerapan dan perubahan teknologi informasi dalam pendidikan.

oleh ; DR. Sukiman. S.Ag. M.Pd